Purbalingga-Program Studi Manajemen Dakwah dengan dipelopori oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Dakwah kembali menggelar kegiatan Juguran, diskusi santai pada (16/04/2026) di Kampus II Purbalingga dengan mengangkat tema “Syawal sebagai Titik Reorientasi.” Kegiatan ini menghadirkan Ketua Program Studi Manajemen Dakwah, Ulul Aedi, M. Ag. sebagai pemateri utama.
Acara diikuti oleh HMPS Manajemen Dakwah, berbagai komunitas internal seperti KomDai, KSR (Komunitas Safari Religi), serta perwakilan anggota BMT (Baitul Maal wat Tamwil). Selain itu, mahasiswa Manajemen Dakwah angkatan 2024 dan 2025 serta sejumlah mahasiswa dari program studi lain juga ikut meramaikan diskusi.

Dalam pemaparannya, Ulul Aedi menjelaskan bahwa bulan Syawal dapat dimaknai sebagai momentum reorientasi diri setelah umat Islam menjalani proses pembinaan spiritual selama bulan Ramadan. Reorientasi tersebut menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap setiap tindakan agar manusia senantiasa kembali mengingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ia menyampaikan bahwa setelah “dilatih” selama Ramadan, individu perlu menjadikan Syawal sebagai titik awal untuk terus mengevaluasi diri. Salah satu bentuk konkret yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan refleksi harian, yakni menelaah kembali aktivitas yang telah dilakukan sepanjang hari, kemudian mengevaluasinya pada malam hari.

Lebih lanjut, Ia juga menguraikan konsep manusia dalam beberapa perspektif. Pertama, manusia sebagai nas, yaitu makhluk sosial yang memiliki hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) sekaligus dengan Allah SWT (hablum minallah). Kedua, manusia sebagai basyar, yang dipahami sebagai makhluk biologis dengan kebutuhan jasmani. Ketiga, manusia sebagai ins, yang menempatkan manusia sebagai hamba sekaligus pelayan Allah SWT.
Menurutnya, manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang perlu terus melakukan reorientasi diri. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk lalai terhadap kewajibannya serta tantangan dalam menjaga keistiqomahan dalam beribadah dan berperilaku.
Kegiatan juguran berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan antusiasme peserta dalam memahami pentingnya refleksi diri, khususnya pada momentum pasca-Ramadan. Diskusi ini diharapkan mampu menjadi pengingat sekaligus pemantik semangat bagi mahasiswa untuk terus memperbaiki diri secara berkelanjutan.