“Kordinat Kerinduan”: MD UIN Saizu Hadir dalam Gelora Spiritual dan Dialog Kebudayaan di Tengah Era Multikrisis

PURWOKERTO – Ruang Hetero Space Purwokerto, Jumat malam (31/10/2025), menjadi saksi sebuah gelaran yang tidak biasa. Bukan sekadar acara rutinan, “Juguran Syafaa’at” yang mengusung tema “Kordinat Kerinduan” ini berhasil menyelam ke dalam relung jiwa yang paling dalam: kerinduan akan figur teladan, Nabi Muhammad SAW, di tengah gempuran era multikrisis. Gelaran ini semakin berbobot dengan kehadiran Dosen MD UIN Saizu sebagai narasumber, menegaskan komitmen nyata kampus untuk turun langsung mendampingi dan berdialog dengan generasi muda.

Suasana magis langsung terasa sejak pembukaan. Group sholawat Al-Hijrah Al-Banjarri membawakan pembacaan Maulid Al-Barzanji dengan khidmat, mengalunkan syair-syair pujian yang menyentuh kalbu, mengantarkan ratusan peserta pada sebuah perjalanan spiritual menelusuri jejak kenabian.

Dalam paparannya yang tajam, perwakilan Dosen MD UIN Saizu menerangkan bahwa Maulid Al-Barzanji bukan sekadar ritual. “Ini adalah medium pembelajaran. Melalui Al-Barzanji, kita membuka dokumen sejarah dan spiritual tentang Rasulullah SAW. Dalam kegelapan multikrisis yang meresahkan, kerinduan kita kepada Baginda Nabi berusaha kita obati, kita temukan ‘kordinat’nya, agar kita tidak lagi tersesat,” ujarnya, menggambarkan relevansi tradisi islami dengan konteks kekinian.

Komitmen MD UIN Saizu untuk turun gunung, urun rembug, dan membersamai anak muda dalam mencari solusi di tengah krisis yang multidimensi menjadi nyawa dari partisipasi ini. Kehadiran akademisi kampus dalam ruang dialog seperti ini menunjukkan pendekatan yang segar: ilmu tidak hanya terkungkung di menara gading, tetapi harus menyapa realitas.

Dialog semakin kaya dengan kehadiran dua narasumber lain yang mumpuni di bidangnya. Budayawan dan seniman Banyumas, Titut Edi Purwanto, dan penulis serta budayawan Purbalingga, Agus Sukoco, menyuguhkan perspektif kebudayaan yang mendalam. Mereka merajut diskusi tentang kerinduan spiritual dengan benang-benang kearifan lokal dan ekspresi seni, menciptakan sintesis yang memukau.

Dipandu dengan apik oleh Kusworo Edy sebagai moderator, arus diskusi mengalir deras dan penuh gairah. Debat, tanya jawab, dan refleksi bersama berlangsung begitu intens. Energi kecintaan pada Nabi dan kegelisahan akan zaman menyatu, membuat waktu berjalan tanpa terasa.

Acara yang dimulai di penghujung malam itu baru berakhir pukul 01.00 dini hari, membuktikan betapa dahaganya anak muda akan ruang dialog yang substansial. Kegiatan pun ditutup dengan sebuah simbol keterhubungan yang hangat: salaman dan sapa bersama antara para peserta dengan seluruh narasumber, mengukuhkan ikatan yang telah terjalin sepanjang malam.

Juguran Syafaa’at ini bukan sekadar peringatan. Ia adalah sebuah pernyataan: di tengah krisis, generasi muda justru kembali kepada akar spiritual dan kebudayaannya, dan MD UIN Saizu hadir di sana, bukan sebagai pengajar, tapi sebagai pendamping seperjalanan.