PURBALINGGA_Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Dakwah (MD) UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) menggelar kegiatan Juguran Bareng Kepala Program Studi (Kaprodi) MD dengan tema “Refleksi Diri di Bulan Ramadan”. Kegiatan dilangsungkan di Gedung Kuliah Terpadu lantai 2 kampus II UIN Saizu pada Kamis (5/3/2026) pukul 16.30-17.30 WIB. Kegiatan diikuti oleh mahasiswa MD dan menjadi ruang diskusi santai penuh makna dalam memahami Ramadan secara mendalam.
Dalam kegiatan ini mahasiswa berdiskusi langsung bersama Ulul Aedi selaku Kaprodi MD. Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif, di mana mahasiswa diajak untuk melihat Ramadan tidak hanya dari sisi ibadah ritual, tetapi juga dari sisi filosofis dan spiritual.
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Kaprodi MD adalah mengenai makna ketakwaan. Ia menekankan bahwa predikat takwa tidak seharusnya hanya diraih dan dijaga selama bulan Ramadan saja, nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan justru perlu dipertahankan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadan berakhir.
Selain itu, Ramadan juga dipahami sebagai momentum manajemen diri. Pada bulan ini, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, mengatur kebiasaan, serta membangun kedisiplinan spiritual. Proses ini diibaratkan seperti mendidik anak kecil, apabila setiap keinginan selalu dituruti, dia akan terus menuntut. Namun melalui pendidikan dan pengendalian diri, seseorang dapat belajar menata dirinya dengan lebih baik.

Dalam diskusi ini juga dibahas fenomena budaya yang sering muncul selama Ramadan, seperti tradisi berburu takjil dan pelaksanaan salat tarawih berjamaah. Tradisi ini dipandang sebagai bagian dari kultur Ramadan. Namun mahasiswa diajak untuk tidak berhenti pada aspek budaya semata. Ramadan perlu dimaknai sebagai bulan tarbiyah, yaitu bulan pendidikan yang membentuk karakter dan memperkuat spiritualitas seseorang.
Mahasiswa juga diajak memahami Ramadan secara lebih filosofis. Meningkatnya semangat beribadah selama bulan suci ini seharusnya tidak bersifat musiman. Amal ibadah yang dilakukan selama Ramadan idealnya menjadi kebiasaan yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam refleksi yang disampaikan, Kaprodi MD juga menyinggung perjalanan hidup manusia, khususnya mengenai fase usia 40 tahun yang sering dipandang sebagai masa kematangan karier sekaligus kedewasaan spiritual. Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa penting yang terjadi pada usia tersebut, termasuk Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memaknai Ramadan bukan sekadar sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai proses pendidikan diri yang berkelanjutan. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual yang dipelajari selama bulan Ramadan dapat terus hidup dan membentuk karakter hingga di masa mendatang.