Oleh : Ahmad Ainul Yakin*
Program studi ini adalah program studi yang saya pilih secara sadar dan yakin, sebuah pilihan yang membawa saya sampai sejauh ini dalam berkembang, di dunia yang saat ini semua menuju kepada harta duniawi saja atau bisa kita sebut dunia yang porosnya pada kapitalisme, aku lebih menginginkan untuk poros duniaku di dalam spiritulitas, kenapa saya berfikir demikian? Tentu itu karena saya mengalami pengalaman spiritual cukup mendalam sejak saya baru menginjak umur 12 tahun atau seusia anak-anak SMP, ini semua selaras dengan moto hidup saya juga yaitu “berani berbuat berani bertanggung jawab” dalam keyakinan saya yaitu agama islam, bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah kita lakukan dengan keberanian yang nyata adalah suatu keharusan, apalagi saya seorang laki-laki yang harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang saya kerjakan, entah itu sengaja ataupun tidak disengaja.
Berbicara tentang manajemen dakwah yang notabene fokus ilmunya terbagi menjadi tiga yaitu ; manajemen masjid, zakat wakaf, dan haji dan umrah. Itu semua adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang terstruktur dalam keilmuan dunia modern, bagaimana kita mengaplikasikan suatu ilmu yang dasarnya dari tradisionalis ke modernis. Ini membuat saya senang karena salah satu cita-cita saya adalah merujuk kepada hadist nabi SAW yaitu “khairunnas anf’uhum linnnas” yang dimaknai sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat untuk manusia lain. Ini diluar dari perspektif liar beberapa orang yang menganggap kalo kita bermanfaat bagi orang lain nanti kita malah akan dimanfaatkan oleh orang lain. Saya tentu memiliki pandangan yang berbeda tentang perspektif tersebut. Karena saya juga berpegang pada kata-kata ulama, salah satunya adalah perkataan dari K.H. Bahaudin Nur Salim atau yang lebih familiarnya kita dengar dengan sapaan Gus Baha. Beliau pernah berkata dalam ceramahnya, “kamu jangan sampai didikte oleh orang lain, kamu baik ya baik saja, jangan sampai kamu merasa orang lain jahat kepadamu kamu ikut-ikutan jahat juga, yang kita cari itu ridho Allah bukan ridho orang lain”. Kurang lebihnya seperti itu saya mendapatkan sudut pandang baru yaitu kita kalo mau baik ya baik saja, mau bermanfaat bagi orang lain ya lakukanlah, karena yang kita cari adalah ridhonya Allah, mau orang lain berbuat buruk kepadamu, atau berbuat jahat kepadamu sekalipun itu urusan mereka dengan Allah nantinya. Yang penting output kita keorang lain tetap baik.
Semua pernyataan yang saya ceritakan ini adalah dasar saya memilih manajemen dakwah sebagai salah satu jalan menata masa depan saya. Pernyataan itu saya dapatkan ya karena saya sudah menjalani 6 semester di program studi ini. Sebelumnya saya adalah calon mahasiswa yang bingung tentang pilihan masa depan saya. Saya seorang gap year kurang lebih 2 tahun. Sebelum berkuliah saya bekerja dulu, mengumpulkan biaya agar bisa menginvestasikan otak saya untuk masa depan. Setelah tabungan saya cukup untuk semua biaya kuliah, saya membulatkan tekat saya untuk resign dari pekerjaan saya.

Keputusan besar itu saya ambil dengan tekat yang kuat untuk merubah harkat dan martabat keluarga saya, karena dikeluarga saya belum ada yang menjadi sarjana. Itu adalah salah satu dorongan saya untuk terus semangat menuntut ilmu. Saya mengalami kebuntuan sebelum saya memilih Manajemen Dakwah ini, ada keinginan orang tua untuk saya menjadi guru sedang saya nggak suka jadi guru, saya juga tidak tau hukum-hukum islam untuk bisa join di fakultas syariah, ataupun hitung-hitungan seperti di fakultas ekonomi bisnis islam saya sangat kurang dalam hal tersebut. Yang saya punya hanyalah semangat untuk berdakwah, walaupun ilmu saya masih sedikit ada hadist yang membuat saya semangat untuk terus berdakwah yaitu “balighun ‘anni walau ayatan” yang artinya sampaikanlah walau satu ayat. Apa yang disampaikan rosulullah tersebut menyentuh kobaran api semangat saya untuk berdakwah. Api ini akan terus membara di dalam hati dan fikiran saya untuk keberlangsungan semangat saya menuju wisuda sarjana nanti.
Selama menempuh 6 semester ini, saya telah menerapkan ilmu manajemen dakwah dalam praktik nyata, seperti mengelola kegiatan pengajian di masjid. Pengalaman ini mengajarkan saya bagaimana mengintegrasikan prinsip syariah dengan tools modern seperti aplikasi digital untuk pengelolaan wakaf dan platform online untuk promosi haji umrah. Tantangan seperti keterbatasan dana atau resistensi dari masyarakat tradisional justru memperkuat keyakinan saya bahwa dakwah bukan hanya soal ceramah, tapi juga strategi terstruktur yang berkelanjutan. Ini semua membuat saya semakin mantap bahwa program studi ini adalah jembatan sempurna antara spiritualitas dan profesionalisme.
Ke depan, setelah wisuda, saya bercita-cita membangun lembaga manajemen wakaf berbasis teknologi di daerah BARLINGMASCAKEB, yang bisa mengelola aset wakaf untuk pendidikan dan kesehatan masyarakat miskin. Saya ingin mereplikasi model sukses seperti Dompet Dhuafa, tapi dengan sentuhan lokal Jawa Tengah yang kental nilai gotong royong. Visi ini selaras dengan hadis “khairunnas anf’uhum linnnas”, di mana manfaat bagi orang lain menjadi ukuran keberhasilan hidup saya. Dengan bekal ilmu dari Manajemen Dakwah, saya yakin bisa berkontribusi nyata, sambil terus menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan panggilan spiritual.
Pada akhirnya, memilih Manajemen Dakwah bukan sekadar jurusan kuliah, tapi manajemen diri saya secara holistik menata hati, pikiran, dan tindakan menuju ridho Allah. Perjalanan gap year, kerja keras, dan kebuntuan masa lalu kini menjadi cerita inspirasi bagi para pembaca, bahwa keberanian bertanggung jawab akan membuka jalan kebaikan. Saya siap menghadapi tantangan apa pun, karena api dakwah dari hadis “balighun ‘anni walau ayatan” akan terus menyala, membimbing saya menjadi sarjana yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
*Mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah