From Wayang to Wisdom: HMPS Manajemen Dakwah Telusuri Jejak Budaya di Museum Wayang Banyumas

Banyumas, 6 Juni 2026. Setelah sukses menyelenggarakan Seminar Kepariwisataan bertajuk Membangun Pariwisata Beradab di Era Digital, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto merealisasikan materi yang telah diperoleh melalui kegiatan praktik lapangan dengan mengunjungi Museum Wayang di Kabupaten Banyumas.

Mengusung tagline “From Wayang to Wisdom” dengan tema “Menelusuri Jejak Budaya, Menghidupkan Warisan Wayang Nusantara”, kunjungan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan nilai-nilai sejarah, budaya, sekaligus filosofi yang terkandung dalam seni perwayangan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus HMPS Manajemen Dakwah, anggota Komunitas Sendawa, serta beberapa mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Selama kunjungan, peserta mendapatkan penjelasan langsung dari pemandu museum mengenai sejarah perkembangan wayang di Indonesia. Wayang tidak hanya dipahami sebagai seni pertunjukan, tetapi juga pernah menjadi media dakwah yang sangat efektif pada masanya. Melalui pertunjukan wayang, para penyebar Islam mampu mengumpulkan masyarakat dan menyampaikan nilai-nilai keagamaan dengan pendekatan budaya yang mudah diterima. Di era saat ini, cara mengumpulkan masyarakat memang semakin beragam, namun wayang tetap menjadi bukti bahwa budaya memiliki peran besar sebagai media pendidikan dan dakwah.

Peserta juga diajak memahami sejarah Banyumas yang hingga kini masih dikenal sebagai daerah yang kuat menjaga identitas budayanya. Dijelaskan bahwa wilayah Banyumas memiliki keterkaitan sejarah dengan Wirasaba, sebuah wilayah yang kini menjadi Desa Wirasaba di Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Dari sejarah tersebut lahirlah pembagian wilayah yang menjadi cikal bakal berkembangnya Kabupaten Banyumas hingga sekarang.

Selain mempelajari sejarah daerah, peserta juga dikenalkan dengan sejarah berdirinya Museum Wayang Banyumas. Koleksi wayang yang tersimpan di museum sebagian besar merupakan hibah dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya. Museum mulai dirintis pada tahun 1982 dan diresmikan pada 31 Desember 1983, menjadikannya salah satu pusat pelestarian wayang yang memiliki nilai historis penting di Kabupaten Banyumas.

Kunjungan ini tidak hanya berfokus pada koleksi wayang, tetapi juga mengenalkan berbagai peninggalan bersejarah di kawasan museum, seperti Pendopo yang dibangun pada masa Bupati Yudanegara II serta keberadaan Sumur Emas yang menyimpan kisah sejarah dan menjadi bagian dari warisan budaya Banyumas.

Bagi HMPS Manajemen Dakwah, kegiatan ini merupakan sarana untuk menumbuhkan mahabah atau kecintaan terhadap seni dan kebudayaan Nusantara. Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masih banyak generasi muda yang belum mengenal, bahkan menganggap asing, dunia perwayangan. Padahal, di balik setiap tokoh, lakon, dan pertunjukan wayang tersimpan nilai moral, kepemimpinan, kebijaksanaan, serta filosofi kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.

Melalui kegiatan bertajuk From Wayang to Wisdom, mahasiswa diajak melihat bahwa mempelajari budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memahami identitas bangsa sebagai bekal menghadapi masa depan. Praktik lapangan ini juga menjadi implementasi nyata dari pembelajaran kepariwisataan, di mana mahasiswa tidak hanya belajar menjadi pemandu wisata, tetapi juga memahami bagaimana mengemas narasi sejarah dan budaya agar dapat disampaikan secara menarik, edukatif, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Kegiatan kunjungan budaya seperti ini masih relatif jarang dilaksanakan oleh program studi lain. Oleh karena itu, HMPS Manajemen Dakwah berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang pembelajaran yang memperluas cakrawala pengetahuan mahasiswa, khususnya dalam bidang kebudayaan dan pariwisata.

Sebagai masyarakat lokal, sudah sepatutnya kita bangga memiliki Museum Wayang sebagai salah satu aset budaya Banyumas yang perlu dijaga dan dilestarikan. Tantangan terbesar hari ini bukan hanya menjaga koleksi budaya, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda agar mau mengenal, mempelajari, dan mencintai warisan leluhur. Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab moral untuk meningkatkan kesadaran kolektif bahwa masih banyak nilai budaya yang perlu dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kunjungan ini, HMPS Manajemen Dakwah berharap semangat melestarikan budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi langkah nyata dalam membangun generasi yang berwawasan, mencintai identitas bangsanya, serta mampu menjadikan budaya sebagai sumber inspirasi, pendidikan, dan dakwah di tengah perkembangan zaman.