HMPS Manajemen Dakwah UIN SAIZU Gelar Seminar Kepariwisataan, Bekali Mahasiswa Menjadi Tour Guide Berkompeten di Era Digital

Purbalingga, 1 Juni 2026 Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menyelenggarakan Seminar Kepariwisataan bertajuk “Membangun Pariwisata Beradab di Era Digital” sebagai upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kepariwisataan, khususnya profesi tour guide. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias ini menghadirkan praktisi muda sekaligus akademisi di bidang kepariwisataan, Irvan Oktavianto, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber utama.

Seminar dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah, dengan dominasi peserta berasal dari semester dua yang akan menempuh mata kuliah Kepariwisataan Guiding. Melalui kegiatan ini, HMPS Manajemen Dakwah berupaya memberikan wawasan praktis yang melengkapi pembelajaran di dalam kelas sehingga mahasiswa memiliki gambaran nyata mengenai dunia kepemanduan wisata.

Ketua Umum HMPS Manajemen Dakwah, Alvidin, menyampaikan bahwa seminar ini merupakan langkah strategis untuk membangun kapasitas mahasiswa sebelum terjun langsung ke dunia pariwisata.

“Menjadi seorang tour guide tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga harus memiliki kapasitas, wawasan, serta pengetahuan yang baik mengenai destinasi wisata yang akan dikunjungi. Sebelum benar-benar terjun sebagai tour guide, kami berupaya belajar dan berbagi pengalaman bersama Mas Irvan yang telah berpengalaman dan profesional di bidangnya,” ujarnya.

Menurutnya, HMPS Manajemen Dakwah tidak ingin kegiatan seminar hanya bersifat seremonial, melainkan mampu menghasilkan manfaat nyata bagi mahasiswa. “Kegiatan ini kami selenggarakan bukan sekadar simbolis, tetapi diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan. Seminar ini juga selaras dengan mata kuliah Kepariwisataan Guiding yang dipelajari di Program Studi Manajemen Dakwah sehingga peserta memperoleh penguatan teori sekaligus pengalaman praktis dari narasumber.”

Suasana seminar berlangsung meriah dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Tema kepariwisataan yang diangkat menjadi daya tarik tersendiri mengingat seminar edukatif mengenai profesi tour guide masih relatif jarang diselenggarakan di lingkungan UIN SAIZU.

  
Dalam pemaparannya, Irvan Oktavianto, S.Sos., M.Si. mengajak mahasiswa memahami berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata di era global dan digital. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi promosi destinasi wisata, namun juga menghadirkan tantangan yang perlu disikapi secara bijaksana.

Salah satu tantangan yang disoroti adalah fenomena overtourism, yaitu kondisi ketika jumlah wisatawan melebihi daya dukung lingkungan, sosial, dan infrastruktur suatu destinasi. Dampaknya dapat berupa penumpukan sampah, kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, hingga menurunnya kenyamanan masyarakat lokal.

Selain itu, Irvan menyoroti maraknya penyebaran informasi yang tidak akurat melalui media sosial. Menurutnya, informasi mengenai destinasi wisata harus disampaikan secara benar dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan ekspektasi keliru maupun dampak negatif terhadap destinasi wisata.

Perilaku wisatawan di media sosial juga menjadi perhatian penting. Wisatawan diharapkan mampu menggunakan media sosial secara bijak dengan menghormati budaya lokal, tidak merusak fasilitas wisata demi konten, serta tidak membagikan lokasi-lokasi sensitif yang berpotensi memicu overtourism.

Sebagai solusi atas berbagai tantangan tersebut, Irvan memperkenalkan konsep pariwisata beradab yang berlandaskan pada tiga prinsip utama, yaitu menghormati budaya lokal, menjaga kelestarian lingkungan dan warisan budaya, serta membangun interaksi yang etis antara wisatawan dengan masyarakat setempat.

Ia menjelaskan bahwa penghormatan terhadap budaya lokal dapat diwujudkan melalui penggunaan pakaian yang sopan, menjaga etika komunikasi, dan mematuhi aturan yang berlaku di destinasi wisata. Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan melalui tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan kawasan wisata, serta tidak merusak fasilitas umum maupun situs budaya.

Dalam membangun hubungan antara wisatawan dan masyarakat lokal, Irvan menekankan pentingnya sikap ramah, saling menghargai, menjaga privasi masyarakat, serta menghindari perilaku yang dapat menyinggung nilai-nilai budaya setempat.

Lebih lanjut, Irvan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan pariwisata yang beradab. Media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube menjadi sarana efektif untuk mempromosikan destinasi wisata secara luas melalui konten foto, video, maupun ulasan perjalanan.

Selain itu, aplikasi wisata berbasis data dinilai mampu memberikan informasi mengenai rute perjalanan, lokasi wisata, akomodasi, kuliner, harga tiket, hingga kondisi cuaca secara real time. Data tersebut juga membantu pengelola destinasi dalam menganalisis jumlah pengunjung, pola perjalanan wisatawan, serta tingkat kepuasan pengunjung.

Menurutnya, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi wisatawan mengenai etika berwisata, pelestarian lingkungan, perlindungan warisan budaya, serta aturan yang berlaku di setiap destinasi.

Irvan juga menegaskan bahwa pembangunan pariwisata yang beradab tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan industri pariwisata untuk menciptakan destinasi yang berkelanjutan, aman, inklusif, dan memiliki daya saing tinggi.

Sebagai penutup materi, Irvan menyampaikan dua studi kasus yang relevan dengan kondisi saat ini. Pertama, mengenai pentingnya pengelolaan ulasan dan komentar di media sosial secara etis, jujur, objektif, dan bertanggung jawab karena ulasan digital memiliki pengaruh besar terhadap citra suatu destinasi wisata. Kedua, mengenai pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan destinasi melalui pelestarian budaya, pengelolaan usaha wisata, penyediaan produk lokal, serta menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan sehingga manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.



Melalui seminar ini, HMPS Manajemen Dakwah berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori kepariwisataan di ruang kelas, tetapi juga memiliki kompetensi, etika profesi, dan wawasan yang memadai untuk menjadi tour guide yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mewujudkan pariwisata Indonesia yang beradab, berkelanjutan, dan berdaya saing.